Obsesi Putih di Tepi Palung
Suryo Nugroho bukanlah sekadar pengusaha, ia adalah seorang maestro, seorang filsuf, seorang seniman kapur tulis. Baginya, kapur bukan hanya alat untuk mengotori papan hitam, melainkan medium untuk mengekspresikan ide-ide paling murni. Selama bertahun-tahun, ia terobsesi menciptakan kapur tulis pamungkas, "Kapur Kalsium Kencana," sebuah mahakarya yang konon akan menghasilkan goresan paling halus dan suara decitan paling merdu di alam semesta. Untuk mencapai ambisinya, ia membutuhkan dua bahan yang secara geografis dan konseptual sangat tidak akur: sedimen purba dari dasar Palung Mariana dan susu segar dari seekor sapi yang sangat spesifik.
Bab Satu: Problematika Laktasi Primadona
Masalah pertama dan yang paling mendesak bukanlah soal mengirim kapal selam ke kedalaman sebelas ribu meter—itu sudah ia selesaikan minggu lalu dengan menukar tiga lukisan cat minyak koleksinya dengan sebuah "ekspedisi riset partikel dasar laut" yang dijalankan oleh sebuah institut oseanografi swasta yang sedikit meragukan. Masalahnya kini berdiri di hadapannya, mengunyah rumput dengan tatapan menghakimi, dan sesekali mengeluarkan suara "Mooooo" yang terdengar lebih seperti kritik seni daripada panggilan alam.
Namanya Jelita, seekor sapi peranakan Friesian Holstein yang memiliki ego setipis lapisan ozon di atas kota industri. Suryo membelinya dari seorang peternak di lereng gunung dengan harga yang bisa membeli sebuah apartemen studio di pusat kota, hanya karena sebuah legenda lokal menyebutkan bahwa susu Jelita memiliki kandungan kalsium murni dengan struktur kristal heksagonal yang sempurna—syarat mutlak untuk resep kapur impiannya.
Namun, Jelita bukanlah sapi biasa. Ia tidak akan menghasilkan susu hanya karena jadwal perah sudah tiba. Ia adalah seorang primadona. Ia hanya mau diperah jika suasana hatinya sedang bagus. Dan suasana hatinya hanya akan bagus jika ia mendengarkan alunan musik gamelan degung Sunda yang dimainkan secara live. Bukan rekaman dari layanan streaming musik, yang menurutnya "kurang memiliki jiwa dan kompresi audionya merusak tekstur nada."
"Bagaimana mungkin seekor sapi bisa menjadi seorang audiophile?" keluh Suryo kepada asistennya, Budi, sambil memijat pelipisnya.
Budi, seorang pemuda yang menerima pekerjaan ini karena deskripsinya hanya "Asisten Riset Material Karbonat" dan tidak menyangka akan melibatkan diplomasi dengan seekor bovinae, hanya bisa mengangkat bahu. "Mungkin leluhurnya dari Pasundan, Pak. Kita sudah coba putarkan rekaman dari grup Gamelan Mekar Asih pimpinan Ujo Ngalagena, tapi ia hanya menendang embernya."
Suryo menghela napas. "Baiklah. Panggil grup gamelan dari desa sebelah. Tawarkan bayaran ganda. Katakan ini untuk sebuah 'upacara spiritual demi kelancaran riset agrikultural berteknologi tinggi'."
Bab Dua: Ekstrak dari Kegelapan Abadi
Sementara menunggu grup gamelan tiba, Suryo kembali ke laboratoriumnya yang berdinding kaca dan menatap tabung berisi material yang paling berharga di dunia—setidaknya baginya. Di dalam sebuah wadah berpendingin kriogenik, tersimpan sekitar 500 gram sedimen berwarna kelabu pucat. Itu adalah lumpur dari dasar Palung Mariana.
Bagi orang lain, itu hanyalah lumpur. Bagi Suryo, itu adalah puisi. Campuran triliunan cangkang mikroskopis foraminifera dan organisme bersel tunggal lainnya yang telah mati jutaan tahun lalu, tenggelam perlahan ke dasar bumi, dan terkompresi oleh tekanan air yang bisa meremukkan tank baja menjadi seukuran kaleng sarden.
"Lihat ini, Budi," kata Suryo dengan mata berbinar, menunjuk ke layar mikroskop elektron. "Lihat struktur kalsium karbonatnya. Tekanan hidrostatik ekstrem telah menyusun molekul-molekul ini dalam formasi yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ini bukan sekadar kalsium. Ini adalah esensi dari tekanan, sari pati dari kedalaman, jiwa dari kegelapan abadi! Jika digabungkan dengan kalsium terestrial paling murni dari susu Jelita, kita tidak akan membuat kapur. Kita akan melahirkan sebuah bintang katai putih dalam bentuk silinder!"
Budi mengangguk pelan, berusaha tampak terkesan. Dalam hatinya, ia hanya berpikir bahwa semua kerumitan ini hanya untuk membuat sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi debu di penghapus papan tulis.
Bab Tiga: Orkestrasi di Kandang Sapi
Sore harinya, sebuah pemandangan sureal terjadi di pekarangan belakang fasilitas riset Suryo. Satu set gamelan degung lengkap—bonang, saron, jengglong, kendang, dan suling—telah ditata rapi di atas tikar pandan, tepat di depan kandang Jelita yang lantainya baru saja dipel dengan air mawar. Para nayaga atau pemain musik, dengan pakaian tradisional lengkap, duduk bersila dengan ekspresi serius, seolah hendak tampil di hadapan seorang raja.
"Sudah siap?" tanya Suryo lewat walkie-talkie dari ruang observasinya.
"Siap, Pak," jawab pemimpin grup gamelan, seorang pria tua bernama Mang Udin, yang tampak sedikit bingung namun profesional. "Lagu pembuka, 'Manuk Dadali' versi instrumental meditatif, sesuai permintaan audiens."
Alunan merdu gamelan pun mulai mengalir. Awalnya, Jelita hanya menatap para musisi dengan curiga. Namun, ketika suara suling yang meliuk-liuk mulai terdengar, telinganya bergerak-gerak. Ekornya yang tadinya diam, mulai bergoyang pelan mengikuti irama. Ia menutup matanya, seolah meresapi setiap getaran nada.
"Dia menyukainya! Cepat, Budi, siapkan mesin perah otomatis!" bisik Suryo penuh semangat.
Budi dengan sigap mengaktifkan mesin perah yang telah dimodifikasi dengan selang silikon kelas medis dan bantalan pemijat ultrasonik. Proses pemerahan pun dimulai, diiringi oleh alunan gamelan yang khidmat. Itu adalah momen alkimia yang aneh: musik kuno, teknologi modern, dan seekor sapi yang sangat sentimentil, semuanya bekerja sama untuk menghasilkan satu liter susu paling mahal dalam sejarah peradaban manusia.
Bab Empat: Alkimia Kalsium Karbonat
Dengan susu di tangan—yang segera diproses di sentrifugal untuk memisahkan kalsium murninya—Suryo memulai ritual puncaknya. Ia mengenakan jas lab putih bersih, sarung tangan, dan kacamata pelindung, seolah hendak membelah atom.
Ia mencampurkan ekstrak kalsium susu Jelita dengan sedimen Palung Mariana dalam sebuah mangkuk porselen. Prosesnya dilakukan dengan keheningan total, hanya diiringi suara detak jantungnya sendiri. Ia mengaduknya perlahan dengan spatula platina, merasakan perubahan tekstur dari cair menjadi pasta kental.
"Sempurna," gumamnya. "Kepadatan yang ideal. Aroma laut dalam berpadu dengan kelembutan padang rumput. Ini adalah yin dan yang dalam bentuk kalsium karbonat."
Adonan itu kemudian ia cetak dengan hati-hati ke dalam cetakan silinder tunggal yang terbuat dari titanium. Cetakan itu lalu dimasukkan ke dalam oven dehidrasi vakum selama 24 jam. Suryo tidak tidur malam itu. Ia duduk di depan oven, mengawasinya seolah itu adalah inkubator yang berisi harapan terakhir umat manusia.
Keesokan paginya, ia membuka oven. Di sana, terbaring sebatang kapur tulis berwarna putih cemerlang dengan sedikit kilau keperakan. Kapur Kalsium Kencana telah lahir. Beratnya pas, teksturnya halus seperti sutra. Ketika diketuk pelan, ia mengeluarkan nada "C kres" yang jernih.
Suryo mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia membawanya ke papan tulis besar di dinding laboratoriumnya. Inilah saatnya. Momen pembuktian. Ia mengangkat kapur itu, menarik napas dalam-dalam, dan dengan satu gerakan anggun, ia menulis...
"Daftar Belanja: Terasi, Kangkung, Telur Ayam Kampung 2."
Goresannya memang luar biasa halus. Suaranya pun sangat merdu. Suryo tersenyum puas. Misi hidupnya telah selesai. Budi, yang menyaksikan dari sudut ruangan, hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Manusia memang makhluk yang paling absurd.
Illustration: "A hyper-realistic digital painting of a pristine, high-tech laboratory built next to a traditional Javanese cowshed. Inside the cowshed, a group of musicians in full formal Javanese attire are solemnly playing gamelan instruments for a single, very smug-looking Friesian cow. A scientist in a lab coat is anxiously watching a single drop of milk fall into a beaker. In the background, a huge screen displays a bathyscaphe at the bottom of the Mariana Trench."